Saturday, August 21, 2010

Basuki Supartono Kuliahkan Tiga Dokter Palestina

[ Jum'at, 03 September 2010 ]
Basuki Supartono Kuliahkan Tiga Dokter Palestina
KESIBUKAN Chairman Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Basuki Supartono akhir-akhir ini makin bertambah. Selain memantau kegiatan BSMI, Basuki menemani tiga dokter asal Gaza, Palestina, menjalani prakuliah di Indonesia. "Mereka baru tiba di Indonesia sebulan lalu," kata Basuki kemarin (2/9).

Begitu sampai, ketiga mahasiswa tersebut harus menjalani program prakuliah, seperti kursus bahasa Indonesia selama enam bulan di UI. Karena itulah, dia mesti mendampingi mereka.

Menurut staf ahli menteri pemuda dan olahraga bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya itu, sudah lama dirinya menunggu kedatangan ketiga mahasiswa tersebut. ''Soalnya, program ini kami rencanakan sejak 1,5 tahun lalu,'' tuturnya.

Basuki mengatakan, BSMI memang memberikan beasiswa kepada ketiga dokter asal Palestina itu untuk mengambil kedokteran spesialis di UI dan UGM. Program itu terinspirasi pengalaman pribadinya. Yakni, menemukan ayah sahabat dari Aljazair yang memberikan bantuan medis sebelum Indonesia merdeka. ''Mereka tidak punya pamrih apa pun atas bantuan yang diberikan itu,'' ujarnya.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi itu mengaku sangat ingin membantu kesehatan warga yang berada di Jalur Gaza. Salah satu wujudnya adalah melalui program beasiswa tersebut. ''Mudah-mudahan ada manfaatnya,'' tambah Basuki yang sudah tiga kali pergi ke Gaza. (nuq/c2/ari)

 

Thursday, August 19, 2010

Bayi Nomor 4 di Nomor 10

[ Sabtu, 04 September 2010 ]
Bayi Nomor 4 di Nomor 10
PERDANA Menteri (PM) Inggris David Cameron, 43, sedang berbahagia. Istrinya, Samantha Gwendoline Sheffield, 39, melahirkan bayi perempuan pada 24 Agustus lalu. Kemarin (3/9) Cameron bersama istri membawa anak keempat mereka tersebut ke Downing Street 10, London (kediaman dan kantor PM Inggris).

Di luar bangunan itu, atau persis di depan pintu, pasangan tersebut berfoto bersama sang bayi. Mereka lantas menimang-nimang Florence Rose Endellion, nama si bayi, di anak tangga pintu masuk. Cameron bergurau bahwa dirinya telah mengganti popok sang bayi ratusan kali.

Tidak lama kemudian, Cameron membungkukkan badan dan mencium kening bayinya. Sang istri pun membenarkan bahwa kehadiran bayi itu membuat mereka terus terjaga.

Florence Rose Endellion lahir ketika Cameron dan keluarga berlibur di Cornwall, barat daya Inggris. Si bayi lahir dengan berat 2,7 kg lewat operasi caesar.

Cameron dan Samantha menikah pada 1 Juni 1996. Sebelumnya, mereka memiliki tiga anak. Yakni, Nancy Gwen, 6, dan Arthur Elwen, 4. Anak pertama mereka, Ivan Reginald, yang menderita kelumpuhan otak dan epilepsi akut, meninggal dunia pada Februari 2009 dalam usia enam tahun. (AFP/c1/dwi)

Wednesday, August 18, 2010

Harifin Andi Tumpa Tak Pernah Mudik

[ Sabtu, 04 September 2010 ]
Harifin Andi Tumpa Tak Pernah Mudik
KETIKA Lebaran nanti, Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin Andi Tumpa memilih tetap berada di Jakarta. Pria kelahiran 23 Februari 1942 itu tidak akan mudik ke kota asalnya di Soppeng, Sulawesi Selatan, atau tempat dia menghabiskan masa muda di Makassar. ''Lebaran di sini saja,'' ujar hakim agung tersebut setelah salat Jumat di gedung MA, Jakarta, kemarin (3/9).

Pengganti Bagir Manan yang menjabat sejak 15 Januari 2009 itu mengatakan tidak pernah mudik. Bukan tanpa alasan suami Herwati Sikki tersebut tidak mau pulang kampung. Di tanah kelahirannya, dia sudah tidak memiliki sanak saudara. ''Mau ketemu siapa di sana? Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Lebih baik di sini saja. Biar keluarga yang datang,'' jelas pengadil yang diangkat menjadi hakim agung pada 14 September 2004 itu.

Kalaupun dia menyempatkan singgah di kampung asalnya suatu ketika, bapak tiga anak tersebut tidak pernah memiliki agenda khusus. Lulusan Universitas Leiden, Belanda, itu menyebut baru bisa berkunjung ke rumah (almarhum) orang tua ketika ada urusan pekerjaan. ''Saya baru pulang kalau kebetulan ada kunjungan kerja ke sana,'' jelas mantan wakil ketua MA Bidang Nonyudisial tersebut lantas tersenyum. (aga/c7/dwi)

Tuesday, August 17, 2010

Linda Gumelar Ingatkan soal Ruang Menyusui

[ Minggu, 05 September 2010 ]
Linda Gumelar Ingatkan soal Ruang Menyusui
MENTERI Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar menyentil para pengusaha agar peduli kepada pekerjanya, terutama kalangan perempuan. Kepedulian itu bisa diwujudkan dengan menyediakan dan menyiapkan ruang khusus untuk menyusui serta tempat penitipan anak.

Sentilan tersebut dilontarkan menteri kelahiran Bandung, 15 November 1951, itu ketika meresmikan ruang menyusui (nursery room) dan penitipan anak (daycare) di Kantor PT Unilever Indonesia Tbk, Graha Unilever, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa lalu (31/8).

''Ada kewajiban yang harus dilakukan (pengusaha atau perusahaan, Red) terkait dengan pemenuhan hak menyusui bagi karyawan perempuan. Selain ruang menyusui, sepatutnya perusahaan menyediakan tempat penitipan anak,'' kata pemilik nama lengkap Linda Amalia Sari tersebut.

Mertua pebulu tangkis nasional Taufik Hidayat itu menyebut, dengan keberadaan fasilitas itu di perusahaan, karyawan perempuan pun bisa bekerja dengan tenang. Mereka juga tidak khawatir karena anaknya dijaga dengan baik.

Dia mengingatkan para pengusaha bahwa kementerian yang dipimpinnya, bersama Kemenakertrans dan Kemenkes, sudah menerbitkan peraturan bersama tentang pemberian air susu ibu (ASI) selama masa kerja bagi karyawan perempuan.

"Itu memberikan kesempatan untuk menyusui atau memerah ASI selama jam kerja dan menyimpan untuk diberikan kepada anaknya,'' tuturnya. (zul/c7/dwi)

Monday, August 16, 2010

Kabupaten Jombang Peraih Award Kategori Khusus Sanitasi

Kabupaten Jombang Peraih Award Kategori Khusus Sanitasi
Jombang meraih penghargaan tertinggi parameter khusus sanitasi dalam pergelaran Otonomi Awards 2010. Apa yang menonjol sehingga Jombang menang? Berikut ulasan WAWAN SOBARI, peneliti The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).

---

PADA 1970-an, strategi pembangunan sanitasi lingkungan, khususnya di kawasan pedesaan, mengandalkan subsidi konstruksi fisik. Pemerintah pusat dan daerah memberikan stimulan berupa bangunan jamban keluarga secara cuma-cuma kepada masyarakat. Kemudian, mereka membangun ribuan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Maka, keberhasilan itu diukur berdasar kuantitas pembangunan fisik fasilitas sanitasi tersebut.

Faktanya, prevalensi penyakit diare, tifus, polio, dan cacingan di masyarakat masih cukup tinggi. Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan merilis hasil survei nasional pada 2006. Salah satunya berkaitan dengan kematian anak yang berusia kurang dari tiga tahun karena diare. Korban penyakit tersebut sekitar 100 ribu anak per tahun.

Kementerian Kesehatan menyebutkan pula, pada 2007 sekitar 35,3 persen penduduk Indonesia terkena cacingan. Salah satu penyebabnya terungkap dari paparan Economic Impacts of Sanitation in Southeast Asia yang diterbitkan pada November 2007. Terdapat sekitar 94 juta orang di negeri ini yang belum mampu mengakses jamban sehat. Sebanyak 60 persen dari jumlah tersebut berada di pedesaan. Mereka akhirnya terpaksa buang air besar (BAB) di tempat-tempat yang tidak semestinya. Misalnya, sungai, danau, laut, dan daratan.

Dua fakta tersebut menunjukkan kondisi ironis. Di satu sisi, pemerintah berupaya membuatkan jamban. Di sisi lain, masih banyak yang belum mampu mengakses jamban sehat. Belum lagi tingginya penyakit yang diderita masyarakat karena sistem sanitasi yang buruk. Artinya, terdapat persoalan dalam penyadaran masyarakat agar tidak BAB di sembarang tempat.

Fakta itu juga dihadapi Pemkab Jombang. Mereka menyadari, diperlukan perubahan pendekatan untuk memperbaiki kebiasaan buruk masyarakat tersebut. Untuk itu, sejak 2008 Dinkes Jombang didukung sejumlah organisasi berbasis masyarakat mengubah pendekatan pembangunan sanitasi. Mereka memiliki program peningkatan kesadaran bersanitasi sehat.

Pemkab menerapkan tujuh strategi yang diadopsi dari pendekatan sanitasi total dan pemasaran sanitasi (SToPS). Pertama, menerbitkan SK Bupati Nomor 188.4.45/151 A/415.12/2008 tentang Strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kabupaten Jombang. Tujuannya, memberikan payung hukum dan melindungi keberlangsungan program itu. Surat tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penerbitan SK camat dan kepala desa.

Kedua, memicu kesadaran masyarakat desa akan sanitasi lewat sistem cluster. Caranya, diadakan kegiatan penyadaran masyarakat secara partisipatif mengenai dampak sanitasi yang buruk dan pentingnya menggunakan jamban sehat. Sistem cluster tersebut ditentukan berdasar wilayah kerja puskesmas. Tujuannya, program terus berjalan hingga masyarakat desa-desa yang dipicu terbebas dari kebiasaan BAB sembarangan (open defecation free/ODF).

Ketiga, menggunakan media promosi cetak dan elektronik untuk percepatan ODF. Promosi bertujuan memperluas kampanye sanitasi sehat dan ODF ke seluruh wilayah Kabupaten Jombang. Dinkes berinisiatif bekerja sama dengan media cetak lokal untuk mempercepat ekspos keberhasilan ODF di tingkat komunitas sehingga bisa memicu komunitas lain.

Kerja sama dengan media elektronik berbentuk penyiaran tentang spot ODF dan dialog interaktif setiap Rabu pukul 08.00-09.00 di dua radio lokal. Pada 2008, dua radio tersebut menyiarkan progam itu secara cuma-cuma. Kemudian, mulai 2009, salah satu radio dan media cetak lokal tersebut bekerja sama dengan rate 50 persen.

Keempat, dinkes dan puskesmas berupaya membangun jejaring suplai material dengan toko bahan bangunan dan lembaga keuangan. Upaya itu berbentuk kerja sama untuk meringankan beban masyarakat dalam pembangunan jamban. Dalam kerja sama tersebut, toko material sepakat menyediakan bahan baku pembuatan jamban dengan harga diskon. Bahkan, masyarakat bisa membayar material itu dengan cara mengangsur.

Jejaring dengan lembaga keuangan baru dirintis pada 2009 melalui kerja sama dengan salah satu koperasi di Jombang. Koperasi tersebut membayar bahan bangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk membuat jamban kepada toko material. Masyarakat kemudian mengangsur biaya material itu kepada koperasi.

Kelima, memicu kesadaran bersanitasi sehat di sekolah-sekolah. Kegiatan tersebut diawali dengan upaya-upaya ODF di sekolah-sekolah wilayah pemicuan. Caranya, saat pertemuan para kepala sekolah, ada jadwal untuk sosialisasi program itu. Selain penyadaran masyarakat akan jamban sehat, dinas menyosialisasikan cuci tangan dengan sabun melalui guru UKS. Selain itu, setiap murid diberi formulir untuk mendata lima kepala keluarga. Tujuannya, diketahui jumlah warga yang memiliki jamban.

Keenam, mengembangkan sistem kompetisi. Upaya tersebut dilakukan di tingkat kecamatan dan desa. Dalam setiap sosialisasi, wakil dusun menceritakan keberhasilan upaya-upaya ODF. Puncaknya, kompetisi dihelat pada tingkat kecamatan melalui pameran capaian ODF setiap desa. Selain itu, pemkab memberikan insentif sosial berupa komitmen bupati untuk hadir pada setiap deklarasi desa ODF.

Terakhir, mengembangkan sistem monitoring serta evaluasi yang terstruktur dan berjenjang. Maksudnya, ada kegiatan monitoring dan kajian pencapaian ODF mulai tingkat dusun hingga kabupaten setiap dua minggu. Awalnya, kader sanitasi di tingkat dusun melaporkan capaian ODF tiap desa kepada fasilitator puskesmas. Lalu, puskesmas melapor kepada kecamatan dan dinkes.

Salah satu strategi terbaru pemicuan kesadaran bersanitasi sehat dikembangkan melalui pergelaran drama komedi Opera van Jamban. Drama itu merupakan kreasi sejumlah sanitarian dan staf Dinkes Jombang untuk promosi kesehatan, khususnya sanitasi. Opera van Jamban merupakan parodi opera serupa yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta nasional.

Dalam setiap pementasan, dilibatkan beberapa pemain. Antara lain, warga yang sering BAB sembarangan, kepala dusun, sanitarian, dan pemilik toko material. Untuk memperlihatkan kesenian yang profesional, pemain mengenakan kostum khusus yang mencerminkan ketokohan masing-masing.

Semua strategi dan inovasi program sanitasi tersebut bermuara pada target Pemkab Jombang. Yakni, mewujudkan Jombang 100 persen mencapai ODF pada 2014. (*)

Sunday, August 15, 2010

Harian Fajar Melapor Biang Kerusuhan ke Polda Sulsel

[ Sabtu, 04 September 2010 ]

Buntut Keributan pada Diskusi Publik Karebosi

MAKASSAR - Harian Fajar melapor ke Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) kemarin (3/9). Mereka melaporkan kekerasan dan keributan yang terjadi dalam diskusi publik Karebosi sebagai Meeting Point di Studio Mini Redaksi Fajar, Selasa (31/8).

Laporan itu diserahkan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Fajar Muhammad Yusuf A.R., Redaktur Pelaksana Uslimin dan Silahuddin Genda, serta penasihat hukum PT Media Fajar Grup Ridwan Jhony Silamma. Laporan tersebut tercatat dalam nomor LPB/227/IX/2010/SPK.

Di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Sulsel, wakil Harian Fajar diterima Kepala SPK B Inspektur Polisi Dua Muhammad Sukri. Sebelum resmi melapor, Harian Fajar diterima Direktur Reserse dan Kriminal Polda Sulsel Komisaris Besar Polisi Syamsuddin Yunus yang didampingi Kasat I Pidum AKBP Heri Tri Maryadi.

Empat loyalis Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dianggap sebagai biang kerusuhan dalam diskusi tersebut. Mereka adalah Sugali Halim, Atto Suharto, Japri Y. Timbo, dan Syaiful Islam. Sebelumnya, mereka juga dilaporkan karena mengeroyok peserta diskusi, Mayzir Yulanwar.

''Kami tidak bisa menerima ulah mereka. Peserta diskusi diserang dan diskusi yang kami gelar di ruang redaksi dikacaukan. Kami punya bukti gambar dan video,'' tutur Wapemred Harian Fajar Yusuf A.R.

Menurut penanggung jawab diskusi publik Karebosi, Uslimin, pelaku yang merupakan orang dekat wali kota sejak awal beriktikad buruk. Mereka berteriak-teriak, berdiri, duduk di atas meja, dan merebut mikrofon yang dipegang peserta diskusi. ''Seorang pembicara sempat terjerembap ke lantai karena mencoba menghalangi perusuh yang ingin memukul peserta diskusi dengan kursi,'' ungkapnya.

Penasihat Hukum PT Media Fajar Grup Ridwan Jhony Silamma menilai, tindakan itu mencederai demokrasi dan tergolong menghalang-halangi tugas jurnalistik. ''Pelaku harus dijerat pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,'' tegasnya.

Direktur Reskrim Polda Sulsel Syamsuddin Yunus berjanji menindaklanjuti laporan tersebut. Dia langsung memerintah Kasat I Heri Tri Maryadi untuk menangani kasus itu. (ram/jpnn/c5/soe)

Saturday, August 14, 2010

Bocah SD asal Semarang Dua Kali Diculik


Dipaksa Mengemis, Baru Empat Hari Ditemukan Hilang Lagi

SEMARANG - Berita penculikan anak kian sering terjadi belakangan. Untuk apa? Di film, penculik anak biasanya meminta tebusan uang dalam jumlah besar kepada orang tua si bocah. Di Semarang lain. Anak-anak diculik untuk dijadikan pengemis.

Paling tidak, itulah yang dialami Deva Bagas Saputra, 11, siswa SDN 3 Candisari, Semarang. Putra sulung Sri Mujiati, 40, warga Lamper Tengah, Semarang, tersebut dua kali diculik. Terakhir, Deva menghilang sejak Senin (30/8). Adiknya mengatakan, Deva dijemput dua lelaki di sekolah.

Kemarin (3/9) Sri melapor ke Polrestabes Semarang. Kepada polisi, Sri menunjukkan foto anaknya yang diduga diculik. Sri mengatakan, penculikan terhadap anaknya tersebut merupakan yang kedua. Pada 12 Agustus, anaknya pernah diculik kawanan pemuda.

''Waktu itu anak saya pamitan beli es dawet. Tapi, dia tidak kembali. Dua minggu kemudian, anak saya itu tanpa sengaja ditemukan saudara saya yang bertugas di Koramil Lamper Tengah," tutur Sri.

Saat ditemukan pada 26 Agustus, Deva mengemis di deretan toko di Jalan Tentara Pelajar, Semarang. ''Kata anak saya, tiap hari dia harus bekerja sebagai pengemis atau pengamen di jalanan. Kalau tidak mau, dia dipukuli. Sore dia harus setor. Orang yang dia setori itu memberinya Rp 1.000," tutur Sri.

Selama penculikan, Deva tidur bersama anak-anak lain di sebuah rumah petak di kawasan Pasar Bulu. ''Dia bilang tidurnya di rumah petak dan di sana banyak anak lain. Pada pukul 24.00, anak-anak itu diberi makan, tapi tidak boleh mandi," cerita Sri.

Belum lama Sri dan Deva berkumpul, si kecil kembali hilang. Deva diduga diculik lagi sepulang sekolah, saat Sri terlambat menjemput. ''Kebetulan, adiknya sekolah di SD yang sama. Waktu itu saya terlambat menjemput. Sampai di sekolah, yang ada hanya adiknya, Yuniar Cindy Cintiya. Dia bilang kakaknya dijemput dua laki-laki, yang satu gemuk, lainnya kurus. Mereka mengaku teman dekat saya," tutur Sri.

Sejak itu Sri berusaha mencari anaknya tersebut dengan menyusuri traffic light dan pasar-pasar. ''Waktu saya tanya ke pedagang di Pasar Bulu, banyak yang tahu anak saya. Saya diberi ancar-ancar agar mencari anak saya pada pukul 17.00 hingga pukul 21.00. Tapi, sampai sekarang dia belum saya temukan," tutur Sri sembari menangis.

Selain melapor ke polisi, Sri meminta warga yang melihat Deva secepatnya melapor ke polisi atau menghubunginya. (tah/jpnn/c7/soe)