Friday, October 7, 2011

Gempa Bengkulu Tidak Ada Korban Jiwa


Sabtu, 4 September 2010 | 01:34 WIB
BENGKULU, KOMPAS.com - Gempa besar di Bengkulu, wilayah pantai barat Pulau Sumatera yang mencapai 6,0 skala Richter, Sabtu (4/9/2010) sekitar pukul 00.06, untuk sementara dilaporkan tidak ada kerusakan bangunan atau korban jiwa.
Guncangan gempa yang cukup kuat itu membuat warga yang umumnya sedang tidur itu, spontan berhamburan ke luar rumah.
Gempa berlangsung hanya beberapa detik. "Setelah tidak berlanjut, warga kembali masuk rumah," kata anggota DPRD Provinsi Bengkulu, M Sis.
Bengkulu pernah dua kali diguncang gempa besar yaitu pada 2000 dengan kekuatan 7,3 SR dan pada 2007 hingga 7,9 SR yang merobohkan ribuan rumah penduduk, menelan puluhan korban jiwa dan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.

Thursday, October 6, 2011

Bocah Tertembak di Rumah Dinas Gubernur


Laporan wartawan KOMPAS Cornelius Helmy Herlambang
Sabtu, 4 September 2010 | 01:19 WIB
SURYA/ais
ilustrasi senapan angin.
BANDUNG, KOMPAS.com - Peristiwa penembakan di Gedung Pakuan, Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/9/2010) siang tadi tidak menunjukkan indikasi keterlibatan anak pejabat setempat.
Senjata yang digunakan adalah senapan angin yang disimpan oleh salah seorang anak gubernur yang sedang tidak ada di tempat.
Penembak maupun korban adalah anak-anak yang berasal dari lingkungan sekitar. Seorang narasumber di sekitar Gedung Pakuan menyebutkan, anak yang diduga penembak itu berinisial  RH dan korbannya berinisial RZ. Mereka masih bocah, sekitar 10 tahun.
Peristiwa sekitar pukul 14.00 itu terjadi saat Gubernur Jawa Barat Achmad Heryawan tidak berada ada di tempat tersebut.
"Senjata yang digunakan adalah senapan angin yang disimpan oleh salah seorang anak gubernur yang sedang tidak ada di tempat," ujar sumber itu.
Sebelumnya, sempat tersiar kabar terjadi penembakan yang dilakukan oleh anak pejabat Jawa Barat di lingkungan Gedung Pakuan, tempat tinggal gubernur.
Saat ini, anak korban penembakan itu sedang dirawat di Rumah Sakit Boromeus Bandung. Pihak kepolisian juga sedang mendalami kasus ini.

Wednesday, October 5, 2011

Bocah Usia 12 Tahun Tertembak di Rumdin Gubernur Jabar

Bocah Usia 12 Tahun Tertembak di Rumdin Gubernur Jabar
BANDUNG - Polrestabes Bandung hingga kini masih menyelidiki insiden penembakan bocah berusia 12 tahun yang terjadi di Gedung Pakuan, rumah dinas Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, pada Jumat lalu (3/9). Meski telah memeriksa empat saksi, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

''Hingga kini, pemeriksaan masih berjalan,'' tutur Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Tubagus Hidayat ketika dihubungi Radar Bandung (Jawa Pos Group) via telepon kemarin (4/9).

Tubagus hanya menyebutkan bahwa para saksi yang diperiksa tersebut, antara lain, petugas cleaning service bernama Suhaya, sopir, dan kepala subbagian rumah dinas bernama Yeni. Belum diketahui hasil penyelidikan polisi karena pemeriksaan dilakukan secara tertutup. Wartawan dilarang meliput pemeriksaan itu.

Insiden penembakan tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 Jumat lalu. Saat itu bocah berinisial RZ, 12, tertembak senapan angin di kamar anak Ahmad Heryawan. RZ adalah teman sepermainan A, anak Heryawan yang duduk di bangku sekolah dasar.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bandung menyebutkan, peristiwa itu berawal dari kedatangan A bersama tiga teman seusianya. Mereka bersekolah di sebuah SD swasta di wilayah Bandung Timur. Sekitar pukul 13.00, A pergi les, sedangkan tiga temannya tetap bermain di Gedung Pakuan.

Saat itu tiga bocah tersebut masuk ke kamar kakak A yang juga mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Tanpa disengaja, mereka menemukan senapan angin di kamar itu. RA, salah seorang anak, mengarahkan senapan angin tersebut kepada temannya, RZ. Tanpa disangka, senapan itu berpeluru dan mengenai bagian kepala RZ. Darah menetes di bahu korban.

Petugas Gedung Pakuan baru mengetahui insiden penembakan itu beberapa saat kemudian. Mereka membawa RZ ke RS Borromeus untuk mendapatkan perawatan.

Saat ditanya mengenai pemeriksaan terhadap anak Ahmad Heryawan (kakak A), Tubagus menyatakan bahwa saat peristiwa tersebut terjadi dia tidak berada di TKP (tempat kejadian perkara). Kendati begitu, pihaknya akan memeriksa dia dalam waktu dekat. ''Tidak jadi hari ini (kemarin, Red). Sebab, yang bersangkutan tidak berada di Bandung. Dia kuliah di Jakarta dan sedang UTS (ujian tengah semester, Red),'' ujarnya.

Tubagus menuturkan, senjata yang digunakan pada kecelakaan tersebut adalah senapan angin kaliber 4,5 mm. Senjata tersebut tak harus memiliki izin khusus. ''Sebab, hanya senapan angin. Kalau pistol angin dengan kaliber yang sama, baru harus izin,'' tuturnya.

Dia menegaskan, jenis senapan yang dipakai pada kecelakaan itu hanya perlu mendapatkan pengawasan. ''Jadi, jangan sembarangan dipakai,'' katanya.

Sementara itu, orang tua RZ, Oki Riyanto, 39, mengatakan tidak tahu secara pasti penembakan yang menimpa anaknya. ''Saya hanya dikasih tahu oleh pihak rumah sakit,'' ujarnya saat ditemui di Rumah Sakit Borromeus, Bandung, kemarin.

Selain itu, Oki menuturkan bahwa dirinya juga diberi tahu pengurus Gedung Pakuan pukul 16.00 atau beberapa jam setelah kejadian. ''Saya diminta segera ke rumah sakit. Ini mah kecelakaan,'' katanya. Saat ini kondisi anaknya membaik. ''Terkena (tembak) di bagian belakang kepala. Tapi, peluru masih ada di dalam,'' terangnya.

Oki menyebutkan, sebelumnya RZ dibawa ke sebuah rumah sakit internasional di Bandung dan sempat menjalani rontgen terlebih dahulu. Selanjutnya, RZ dibawa ke RS Borromeus.

Saat ini Oki menyatakan bahwa keluarganya lebih fokus kepada penyembuhan anaknya daripada mencari tahu penyebab kecelakaan tersebut. ''Saya belum bicara ke depan karena masih berkonsentrasi kepada anak saya. Ingin fokus sampai anak benar-benar pulih,'' ujarnya. Dia juga telah berkoordinasi dengan pihak Gedung Pakuan dalam menangani kasus itu.

Oki menceritakan bahwa sebelum kejadian itu, putranya meminta izin untuk menghadiri acara berbuka puasa di Gedung Pakuan. Tak disangka, putranya tersebut mengalami musibah. (dhi/jpnn/c4/dwi)

 

Tuesday, October 4, 2011

Melihat Mumi Wim Motok Mabel di Distrik Kurulu, Wamena

[ Minggu, 05 September 2010 ]
Melihat Mumi Wim Motok Mabel di Distrik Kurulu, Wamena
Mau Ambil Gambar, Rp 25 Ribu Dulu

Banyak yang bilang, belum ke Papua bila belum mengunjungi Wamena. Tapi, tak sedikit pula yang bilang, belum ke Wamena bila belum melihat mumi.

Muslimin, Wamena

---

MUMI Wamena, bisa jadi, tidak sekondang mumi para Firaun Mesir. Namun, sensasinya tak kalah kuat. Apalagi, pengunjung tidak hanya bisa melihat mumi berusia ratusan tahun tersebut. Pengunjung juga diizinkan untuk berfoto dengan mumi yang bentuk beberapa organ tubuhnya masih tampak jelas itu.

Tak aneh, desa tempat mumi tersebut seolah menjadi lokasi yang wajib dikunjungi oleh siapa saja yang ke Wamena. Sebut, misalnya, Mumi Wim Motok Mabel di Desa Yiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua.

Untuk mencapai Wamena, pengunjung dari luar Papua harus transit dulu di Bandara Sentani, Jayapura. Dari Sentani, kita harus menggunakan pesawat udara lagi. Sebab, sampai saat ini jalur udara itulah satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk mencapai Wamena.

Tiket pesawat Jayapura-Wamena Rp 880 ribu per orang. Tidak terlalu mahal, mungkin. Tapi, mendapatkannya tidak mudah. Maklum, pesawat yang tersedia terbatas.

Setelah dapat tiket pun, belum bisa dipastikan kita akan sampai di Wamena. Masih ada penentu lain. Cuaca. Untuk mencapai Wamena, pesawat harus melalui celah di antara dua bukit. "Bila cuaca sedang tidak bagus sehingga celah itu berkabut, pesawat biasanya kembali ke Bandara Sentani," tutur seorang calon penumpang di Bandara Sentani. Mendebarkan? Mereka yang gemar bertualang mungkin menganggapnya mengasyikkan.

Tiba di Bandara Wamena, tinggal pilih, mau langsung ke perkampungan tempat mumi berada atau beristirahat dulu. Bila mau langsung menuju lokasi, kita bisa memanfaatkan jasa taksi bandara. Tarifnya Rp 100 ribu per jam atau Rp 800 ribu per hari. Bila pengunjung ingin beristrahat dulu, di sekitar Bandara ada hotel dan penginapan. Tarif terendah Rp 250 ribu per hari.

Perkampungan mumi di Distrik Kurulu, Jaya Wijaya, berjarak sekitar 30 kilometer atau 25 menit perjalanan dari Kota Wamena. Sepanjang perjalanan, mata seolah dimanjakan dengan pemandangan alam terbuka yang berbukit-bukit dan menawan.

Lalu, wow! Sekitar 15 menit perjalanan, menjelang memasuki desa tempat mumi berada, di kiri jalan tampak bukit dengan hamparan putih di sekelilingnya. Salju? Bukan. Hamparan putih itu pasir. Tapi, memang, pasir itu terlihat putih sekali.

Setelah 25 menit perjalanan, sampailah kita tiba di kampung mumi. Perkampungan itu dihuni 20 kepala keluarga. Di bagian depan perkampungan ada pintu masuk yang hanya dibuka saat ada tamu.

Begitu kami masuk halaman perkampungan, mereka langsung menyambut kami dengan ramah. Yang perempuan mengenakan sali (rok dari kulit kayu), sedangkan yang laki-laki memakai koteka. Kesan primitif sangat terasa. Namun, ada yang bilang bahwa mereka sebetulnya sudah berkain seperti kita sehari-hari. "Tapi, mereka langsung buka baju begitu tahu ada pengunjung," kata seorang teman yang asli Wamena.

Lingkungan di perkampungan itu juga masih terkesan alami. Di kiri kanan tampak honai, rumah tempat warga tinggal. Di salah satu honai itulah mumi Wim Motok Mabel disimpan.

Mau melihat mumi? Boleh. Tapi, harus nego dulu sebelum mereka mau mengeluarkan mumi tersebut dari honai. "Ada tarifnya. Biasanya pengunjung harus bayar Rp 25 ribu. Katanya sih untuk biaya perawatan," kata teman tadi.

Menurut Batu Logo, salah seorang warga yang tinggal di perkampungan tersebut, Mumi Wim Motok Mabel adalah generasi ketujuh. Usianya saat ini 368 tahun. "Dia (Wim Motok Mabel, Red) adalah kepala suku perang. Menurut cerita orang tua kami, sebelum meninggal beliau berpesan agar mayatnya tidak dibakar. Beliau minta mayatnya diawetkan agar jasadnya bisa dilihat generasi berikutnya," kata Batu Logo.

Meski telah berusia 368 tahun, sebagian bentuk tubuh mumi itu masih sangat jelas. Terutama kepala, badan, dan kaki. Bahkan, kotekanya pun masih terlihat. "Untuk menjaga agar tidak rusak termakan usia, mumi itu dirawat secara tradisional dengan pengasapan dan pengolesan lemak babi ke seluruh tubuh mumi," terang Batu Logo.

Mau berfoto bersama Mumi, bisa. Tapi, lagi-lagi ada tarifnya. Bahkan, berfoto dengan warga setempat yang mengenakan pakaian tradisional pun, kita harus bayar. "Seorang Rp 5 ribu untuk sekali jepretan," kata Batu Logo.

Bahkan, di depan salah satu honai, tampak pondok yang memajang hasil kerajinan tangan warga. Kotega berbagai jenis dan ukuran terlihat bergantungan di sana. Ada juga noken, kalung, gelang, dan beragam kerajinan tangan lain. Harganya juga bervariasi. Tapi, jangan dulu berpikir "serbu", serba lima ribu. Kerajinan tangan di kios suvenir itu berharga Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah. (jpnn/c13/soe)

Monday, October 3, 2011

Said Aqil: Tidak Perlu Takut atau Minder Menghadapi Malaysia

Said Aqil: Tidak Perlu Takut atau Minder Menghadapi Malaysia
Harus Berani Bilang Malaysia Salah

JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) memperingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar bersikap tegas saat menjalankan upaya diplomasi dengan pemerintah Malaysia. SBY harus berani mendesak Malaysia untuk meminta maaf kepada Indonesia.

Ketua Umum Tanfidziyah PB NU Said Aqil Siradj menyatakan, sikap tegas itu pantas dilakukan karena Indonesia berada di pihak yang benar. ''SBY harus berani menyatakan, kamu (Malaysia, Red) terbukti salah dan untuk itu harus meminta maaf kepada rakyat Indonesia,'' tegasnya setelah acara buka puasa bersama di Gedung PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin (4/9).

Sikap tegas itu, lanjut dia, bisa ditunjukkan saat perundingan antardua negara di Kinabalu, Malaysia, 6-8 September 2010. Indonesia maupun Malaysia akan diwakili menteri luar negeri masing-masing. ''Bangsa Indonesia, termasuk presiden, tidak perlu takut atau minder menghadapi Malaysia,'' ungkap.

Menurut Said, persoalan dengan Malaysia belakangan ini nyata-nyata menyangkut harga diri dan kedaulatan bangsa. Karena itu, perlu ada ketegasan SBY sebagai kepala negara dalam menjalankan upaya diplomasi. ''Sikap tegas menghadapi negara yang coba-coba melecehkan kedaulatan negara itu sangat penting,'' tegaskan kembali.

Selain pengurus PB NU, acara buka puasa tersebut dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi A. Muhaimin Iskandar dan Menteri PDT Helmy Faishal juga hadir.

Terkait persoalan dengan Malaysia, Muhaimin hanya berharap ketegangan di banyak sektor yang muncul pascakonflik dengan Malaysia segera diakhiri. Sebab, menurut dia, dalam jangka panjang, persoalan tersebut pasti berpengaruh terhadap nasib jutaan TKI di Malaysia.

''Alhamdulillah, kalau saat ini, tidak ada pengaruh khusus (pada TKI). Cuma, kalau diterus-teruskan, tentu mungkin akan berpengaruh,'' ujarnya.

Karena itu, dia berharap ketegangan-ketegangan yang mungkin muncul karena tindakan-tindakan yang tidak perlu sebaiknya dihindarkan. ''Sebaiknya semua pihak menahan diri dulu sekarang,'' kata ketua umum DPP PKB tersebut. (dyn/c5/tof)

Sunday, October 2, 2011

Cuaca Ekstrem Pembawa Badai di Seluruh Penjuru Bumi

[ Minggu, 05 September 2010 ]
Cuaca Ekstrem Pembawa Badai di Seluruh Penjuru Bumi
Pertengahan tahun ini cuaca ekstrem terjadi nyaris di seluruh penjuru bumi. Cuaca ekstrem itu membawa badai-badai terbesar yang pernah terjadi di dunia ini.

---

TOPAN Kompassu yang menerjang Semenanjung Korea pada Kamis (2/9) adalah yang paling gede dalam 15 tahun terakhir. Kompassu merusak jaringan listrik hingga melumpuhkan sistem transportasi, misalnya subway, di negeri ginseng.

Akibat topan Kompassu, curah hujan begitu tinggi di Korea Selatan dan Pulau Ganghwa. Angin, hujan, dan badai itu lantas bergerak dengan kecepatan 55 mil (sekitar 88 kilometer) per jam menuju Korea Utara. Apa pun yang dilewati hancur. Musnah.

Lebih dari 120 penerbangan ditunda dan sebagian besar jaringan kereta bawah tanah atau subway tersendat. Tiang-tiang dan pepohonan tumbang di Seoul. Rumah sakit sesak dipenuhi korban luka akibat pecahan kaca. Sehari sebelumnya, Rabu (1/9), pemerintah Korea Selatan mengeluarkan peringatan topan. Tapi, korban tetap ada.

Terra Satellite milik NASA menangkap perubahan bentuk badai tropis Kompassu saat melintasi Korea dan Tiongkok Kamis pagi (2/9). Kantor berita Yonhap melansir lima orang di Korea Utara tewas ketika Kompassu mengamuk. Masih menurut Yonhap, seorang kakek berusia 80 tahun tewas setelah tertimpa genting rumah yang beterbangan di Seosan, Provinsi Chungcheong. Di Bundang, Seoul, seorang pemuda berumur 37 tahun tewas setelah tertimpa pohon dan seorang tukang listrik tewas tersetrum di Mokpo, 410 kilometer selatan Seoul.

Di Tiongkok, musim badai terus berlanjut. Kali ini badai tropis Lionrock mengakibatkan curah hujan sangat deras disertai angin kencang di Provinsi Fujian. Sepanjang tahun ini lebih dari tiga ribu orang menjadi korban bencana banjir dan tanah longsor di Tiongkok.

Badan prakiraan cuaca nasional Tiongkok pun memperingatkan penduduk agar mewaspadai angin kencang dan hujan deras saat Lionrock melanda Xiamen, Guanzhou, dan kota-kota pantai lain.

''Waspada akan kemungkinan tanah longsor dan gangguan-gangguan lain akibat hujan lebat,'' terang Badan Meteorologi Fujian, seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Setelah ada peringatan tersebut kapal-kapal dan perahu  motor penangkap ikan di daerah itu diperintahkan tetap di pantai atau menghadapi risiko bahaya badai yang sudah melanda Taiwan, Rabu, dan menimbulkan hujan lebat dan angin kencang.

Para pejabat China gelisah setelah banjir dan tanah longsor melanda negara itu pada musim panas ini yang menyebabkan 3.185 orang tewas dan 1.060 lainnya hilang. Sementara itu, Shanghai meliburkan sekolah-sekolah karena khawatir akan ancaman topan Kompassu.

Datangnya Lionrock dan Kompassu sudah diprediksi. Menurut Badan Meteorologi Zhejiang, Kompassu, yang bermakna kompas dalam bahasa Jepang, terbentuk pada Ahad (29/8) pagi di Laut China Selatan dan bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 15 kilometer per jam.

Earl Hantam Amerika

Sementara itu, dari negeri Paman Sam, badai Earl dilaporkan menghantam wilayah pantai timur. Puluhan ribu warga di North Carolina dievakuasi untuk menghindari jatuhnya korban. Ratusan ribu lainnya diperingatkan akan bahaya badai Earl yang membawa angin dan hujan deras ke pesisir timur laut AS.

Badai dengan kategori empat tersebut bergerak dengan kecepatan 165 kilometer per jam ke arah New England dan Nova Scotia setelah sempat melemah Kamis malam (2/9). Badai Earl terjadi di akhir musim panas tahun ini.

Badan cuaca nasional melansir peringatan datangnya banjir besar di Massachusetts selatan, Cape Cod, dan kepulauan sekitar. Curah hujan hingga enam inci diperkirakan turun sepanjang akhir pekan.

''Badai akan mereda ketika menyentuh perairan di timur laut Nantucket. Kami berharap Earl akan melemah minimal hingga pada kategori I dengan kecepatan angin mencapai 86 kilometer per jam,'' ujar Neal Strauss, meteorologi dari Taunton, Massachusetts.  

Ratusan penerbangan terpaksa dibatalkan karena Earl. Maskapai Continental membatalkan 50 penerbangan regional. Sedangkan Delta Airlines juga baru beroperasi secara normal Sabtu, seperti diungkapkan Anthony Black, juru bicara maskapai tersebut. (cak/c2/dos)

Saturday, October 1, 2011

Adu Atraktif Finalis dan Suporter di Grand Final Festival Ramadan

[ Minggu, 05 September 2010 ]
Adu Atraktif Finalis dan Suporter di Grand Final Festival Ramadan
SURABAYA - Festival Ramadan Jawa Pos 2010 berakhir tadi malam. Sebanyak 12 grup seni islami dari tiga kategori tampil untuk memperebutkan total hadiah Rp 150 juta. Yakni, empat finalis lomba nasyid, empat fanalis hadrah Al Banjari, dan empat finalis kasidah rebana.

Acara yang dihelat di Plasa JTV itu dibuka dengan penampilan After Deadline Band, grup band karyawan Jawa Pos. Penampil selanjutnya adalah Balasyik dari Jember dan Kunthulan dari Sanggar Sayu Wiwi Aliyan, Banyuwangi.

Kemeriahan malam grand final tidak hanya ditunjukkan para finalis. Ratusan suporter tiap tim ikut meramaikan acara tersebut. Para suporter tak henti-hentinya memberikan dukungan kepada grup andalan mereka yang tampil di atas pentas. Mereka tampak menguasai arena dengan teriakan yel-yel dan spanduk yang terus terbentang.

Festival Ramadan kali ini merupakan yang pertama diadakan Jawa Pos dan para sponsor. Sebanyak 135 grup ambil bagian dalam festival tersebut. "Karena antusiasme warga Surabaya terhadap program ini, insya Allah, tahun depan kami adakan lagi," ujar Pemred Jawa Pos Leak Kustiya saat memberikan sambutan.

Hingga berita ini ditulis, para finalis masih berjuang dan tampil habis-habisan di depan dewan juri untuk menjadi yang terbaik. "Kami ingin memberikan hiburan yang berbeda bagi warga Surabaya pada bulan Ramadan," terang Sujatmiko, ketua panitia.

Tri Rismaharini, wali kota Surabaya terpilih, juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap acara itu. Dia mengungkapkan bahwa Festival Ramadan tahun depan harus lebih meriah dan besar daripada tahun ini. Pemkot Surabaya ingin terlibat secara langsung untuk memajukan kesenian bernuansa islami tersebut. "Saya ingin, tahun depan logo pemkot ikut tercantum di backdrop," katanya.

Bukan tanpa alasan Risma memiliki keinginan seperti itu. Sebab, selama proses kampanye pada pilwali lalu, dia selalu disambut dengan hadrah dan sejenisnya setiap mengunjungi kampung. (kit/c12/nw)